Kamis, 19 Agustus 2010

Karena Allah Sayang kamu

By : Chairil Musa Bani

Di perpustakaan Pesantren Sukamanah Tasikmalaya 8 tahun yang lalu. Saya pernah membaca sebuah kisah menarik tentang kehidupan ibu dengan seorang anaknya dalam sebuah buku yang berjudul "Meraih Ampunan Ilahi". Dan Saya lupa siapa nama pengarang buku itu. Tapi walaupun demikian saya tetap yakin, sekiranya saat ini kita hendak mengambil pelajaran dari apa yang pernah ditulisnya. Dan kita bisa mengambil kebaikan dari apa yang pernah diceritakannya. Maka insya Allah, kebaikan itu tidak akan salah alamat, karena ia akan tetap kembali kepada si penulisnya. Amien....

Kira-kira ceritanya begini,
Di sebuah rumah yang tampak terlihat sederhana, hiduplah seorang ibu setengah baya dengan ditemani seorang manusia kecil yang sangat disayanginya. Ya, dia sangat menyayangi teman kecilnya itu. Betapapun tidak, karena dia bisa jadi apa saja yang dibutuhkan teman kecilnya itu, dia bisa jadi selimut ketika teman kecilnya kedinginan, dia bisa jadi atap ketika teman kecilnya kehujanan atau kepanasan dan bahkan dia juga bisa menjadi badut ketika teman kecilnya menangis.

Dan jauh sebelum semua itu, ternyata ia pernah juga melindungi teman kecilnya ini dari ancaman kematian dengan menempatkannya pada sebuah ruangan yang memang hanya dikhususkan bagi orang-orang yang tersayang (Rahim). Dan walaupun teman kecilnya ini kerapkali membebani dan merepotkan dirinya dan bahkan sempat mengancam kehidupannya ketika melahirkannya, tapi entah kenapa ketika ada seseorang yang bertanya tentang siapa sebenarnya manusia kecil yang menemaninnya itu. Dia malah justru dengan bangga menjawab, "dia adalah malaikat kecilku, buah hatiku, belahan jiwaku dan dialah anakku". Sambil tersenyum ia menatap wajah anaknya yang seolah tak peduli.

Hingga satu saat, di rumah sederhana itu terlihat sang anak tertunduk di depan pintu rumahnya. Dan di sela-sela tunduknya itu terdengar suara ibu yang terdengar marah, "anakku, kalau sekiranya kamu masih nakal, dan tak mau mendengar nasehat-nasehat ibu, maka sekarang kamu boleh pergi dan bermainlah ketempat-tempat yang menurutmu bisa membuatmu bahagia" ucap sang ibu sambil menutup pintu rumahnya.

Dan tahukah kita apa yang anak itu lakukan? Ternyata anak itu tidak mengetuk pintu rumahnya lalu meminta maaf kepada sang ibu atas kesalahannya. Tapi ia justru malah melangkah pergi meninggalkan rumah beserta ibunya. Entah, mungkin sang anak hendak mecoba mencari ketenangan dan kebahagiaan pada selain ibunya.
Maka iapun pergi ke pantai, ternyata apa? Ternyata desir ombaknya tak mampu membasuh kegelisahan hatinya. Lalu ia pergi ke gunung, ternyata kebesarannya juga tak mampu membesarkan jiwanya dan iapun pergi ke padang yang luas, ternyata apa? ternyata keluasaannya tak mampu melapangkan hatinya yang sempit. Semuanya tak ada yang mampu membuatnya gembira dan bahagia.
Dan Iapun tersadar, bahwa hanya ibunyalah yang mampu membasuh kegelisahan hatinya ketika bimbang, yang mampu membesarkan jiwanya ketika kerdil dan hanya ibunyalah yang mampu melapangkan jiwanya ketika sempit.

Akhirnya, iapun memutuskan untuk kembali ke rumah dan ibu yang sempat di tinggalkannya. Dan ketika ia sampai di depan rumahnya, ia mendapati pintu rumahnya masih tertutup rapat. Lalu iapun mengetuk pintu rumahnya seraya memanggil ibunya. "bu... ibu....". Tapi tampaknya sang ibu belum mendengarnya, terlebih ketika itu sang anak hanya mengetuk pintu itu satu kali saja. Mungkin, karena si anak masih merasa malu atas kesalahan yang telah ia lakukakn kepada ibunya. Dan karena sang anak merasa lelah atas perjalanan panjangnya, maka iapun duduk lalu tertidur tepat di depan pintu rumahnya.

Dan ketika menjelang senja, pintu rumahpun terbuka. Dan tahukah kita apa yang terjadi? Si ibu menagis, karena tak tega melihat anaknya tertidur di depan rumah dengan tanpa alas dan selimut, lalu dengan segera iapun merangkul sang anak dalam pelukannya dan membawanya masuk kedalam rumahnya. Dan dari sela-sela bilik rumah tersebut terdengar sang ibu berkata dengan di selingi tangisnya," kamu jangan kemana-mana lagi ya sayang...pokonya kamu jangan pergi meninggalkan ibu lagi... karena kemanapun kamu pergi, kamu tidak akan medapatkan tempat yang nyaman selain bersama ibu... ibu tak menginginkan apa-apa dari kamu... kalaupun ada yang ibu inginkan dari kamu... ibu hanya ingin kamu menjadi anak yang baik dan kamu jangan nakal lagi ya...."

Begitulah sepotong kisah tentang kasih sayang ibu terhadap anaknya. Sebuah kisah yang selalu menjadikan kita terdiam dan tak bisa berkata apa-apa. Karena kita sendiri juga mungkin pernah memiliki kisah yang sama antara kita dengan ibu kita. walaupun dalam judulnya berbeda, tapi tetap saja itu masih dalam tema yang sama, "kasih sayang ibu terhadap kita anaknya". Dan kalaupun ada komentar dari cerita yang yang pernah kita pernah perankan bersama ibu, maka mungkin kita hanya akan berkomentar, "bu, maafkan semua kesalahan saya. Dan tahukah ibu? Bahwa sebenarnya saya juga sangat menyayangi ibu".
\
Dan bukan hanya kita, ternyata Umar bin Khatab sendiri pernah bercerita tentang kisah seorang ibu. dan masih dalam tema yang sama. Dia (Umar bin Khatab) pernah menceritakan pengalamannya setelah melewati suatu peperangan. "Didatangkan beberapa tawanan ke hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Tiba-tiba ada di antara para tawanan seorang wanita yang buah dadanya penuh dengan air susu. (tampaknya ia kebingungan dan sedih karena mencari anaknya). Setiap ia dapati anak kecil di antara tawanan itu, ia ambil dan kemudian ia dekap di perutnya dan disusuinya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya pada para sahabat, "Apakah kalian menganggap wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?" Kami pun menjawab, "Tidak. Bahkan dia tak akan kuasa untuk melemparkan anaknya ke dalam api.........."

Bagaimana saudaraku, apa hikmah inti yang bisa kita petik dari cerita (hadist) yang di sampaikan Umar Bin Khatab tersebut? Mungkin kita semua akan menjawab dengan jawaban yang seragam. Bahwa hikmah inti dari cerita itu adalah tentang betapa besarnya kasih sayang ibu terhadap anaknya.
Dan kalau sekiranya hadits tersebut memang benar-benar terhenti sampai di situ, maka tepatlah jawaban kita. Tapi kenyataannya apa? Ternyata hadist tersebut tidak terhenti sampai di situ, dan karena jawabannya justru ada di ujung atau akhir hadits tersebut. ".......Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya." (HR. Muttafaq Alaih)
Ya, ternyata kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya adalah hikmah intinya. Karena kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya masih lebih besar ketimbang kasih sayang ibu terhadap anaknya. Kenapa?? Maka Allah swt sendiri telah menjawabnya, karena "Kasih sayang-Ku meliputi segala sesuatu" (QS. Al-A'raf : 156)

Dan pada kenyataannya, kita memang bisa tumbuh dan besar tidak semata-mata karena kebaikan ibu, tapi di sana juga ada kebaikan alam dan keadaan. Artinya, kita bertumbuh dan besar bersama ibu yang baik di alam yang ramah dan keadaan yang tidak mencekam. sedangkan untuk semua itu (ibu yang baik, alam yang ramah dan keadaan yang tak mencekam) adalah Allah yang memberikan (mentakdirkan). "Sesungguhnya Allah berkuasa(mentakdirkan) atas segala sesuatu" (QS. Al-Baqarah : 20)

Maka, apapun yang ibu berikan kepada kita atas nama cintanya. Sesungguhnya itu tidak akan pernah benar-benar terjadi jika sebelumnya Allah sendiri telah terlebih dahulu menanamkan rasa cinta kepadanya (ibu) atas nama sayang-Nya terhadap kita hamba-Nya.

Karena setiap kebaikan yang ibu berikan pada kita, adalah juga kebaikan yang Allah anugerahkan buat kita. Tapi tidak setiap kebaikan Yang Allah berikan kepada kita, itu adalah juga kebaikan yang ibu berikan buat kita.

Mungkin, seperti kebaikan ramadhan. Sebuah kebaikan yang tak seorangpun bisa memberikannya. Karena ramadhan bukanlah pemberian dari makhluk kepada makhluk lainya. Tapi ia merupakan pemberian Khalik kepada makhluk-Nya. dan kalau pun seolah ada kebaikan yang di berikan dari makhluk kepada makhluk lainya (seperti zakat/shadaqoh) di bulan ramadhan, maka itu adalah dampak kebaikan ramadhan yang telah diberikan sang Khalik kepada makhluknya. Karena pada akhirnya, Allah adalah sumber segala kebaikan, dan sumber segala rasa sayang dari setiap manusia yang baik, dan manusia yang terbaik (ibu).

Dan hari ini, ketika kehidupan dan segala persoalannya terasa sangat menghimpit dan menyedihkan. Dan ketika kebahagiaan yang selama ini kita cari tak kunjung ditemukan. Maka, marilah kita kembali kepada-Nya. karena bersama-Nya kita akan merasa lapang dan Bahagia. Dan bersaman-Nya pula, kebahagiaan yang tak terbantahkan itu ada.

Dan sejauh apapun kita telah jauh meninggalkan-Nya, dan sebanyak apapun kita telah berbuat maksiat kepadanya. Maka jangan pernah kita berfikir bahwa Dia tidak akan mengampuninya. Karena seperti juga ibu yang masih mau menerima dan berharap akan kembali anaknya. Maka seperti itu juga Allah akan menerima kita dan berharap akan kembalinya kita. Dan bahkan dengan kadar yang lebih besar dari itu.

Terlebih untuk kebaikan yang Dia berikannya saat ini (Ramadhan), di saat pintu sayang dan maaf-Nya telah di buka selebar-lebarnya. Maka di saat itu pula kita tak perlu lagi mengetuk pintu-Nya apalagi sampai harus tertidur di serambi sayang dan maaf-Nya. karena sebelum kita tertunduk malu dan duduk lelah karena dosa-dosa kita, Maka Allah swt telah terlebih dahulu merenkuh kita dalam pelukkan dan dekapan kasih sayang-Nya.

Dan akhirnya, Ramadhan Adalah cara, cara bagaimana Allah mendidik kita menjadi manusia yang baik dan tidak nakal lagi. Ramadhan adalah juga tempat, tempat yang mungkin bisa menyadarkan kita bahwa kebahagiaan yang selama ini kita cari itu hanya ada pada kebersamaan kita dengan-Nya. dan Ramadhan juga adalah hadiah. Ya, hadiah dari sebuah alasan, 'karena Allah sayang Kamu'.
Wallahu a'lam bisshawab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar