Rabu, 25 Agustus 2010

Doa Emak

By : Chairil Musa Bani

Walaupun saya hanya menjadi imam taraweh di rumah. Ternyata dampak kemajuan dari barisan shalat tidak hanya terasa di masjid-masjid atau mushola-mushola saja. Tapi kemajuan itu juga berimbas di rumah saya. Buktinya malam ini saya hanya menjadi seorang imam dari seorang makmum, yaitu ibu saya sendiri. Tapi meskipun demikian saya tetap berusaha untuk setia jadi imam pribadinya di rumah. Walaupun saya juga sebenarnya ingin shalat di masjid seperti yang lain.

Dan setelah selesai shalat maka saya pun berdoa dengan hanya di temani irama amin  ibu saya. Dan di tengah doa-doa saya, saya pun terpikir untuk memanjatkan doa-doa pribadi saya, karena menurut saya ini adalah kesempatan yang tepat buat doa saya terbang kelangit bersama irama amin yang Beliau panjatkan. Maka saya pun panjatkan doa-doa pribadi saya, mulai dari permintaan akan ilmu yang selalu bertambah, ilmuyang bermanfaat, hingga jodoh yang shalehah dengan bahasa yang mungkin ia tak mengerti tentunya(bahasa arab).

Dan setelah selesai berdoa, lalu saya pun mencium tangannya.Dan tahukan apa yang terjadi setelah itu?? Ternyata beliau berkata, "emak doain...mudah-mudahan ilmu lu bermanfaat, dan lu dapet jodoh yang sholehah..." saya-pun terkaget mendengarnya dan dengan kontan saya pun langsung mengamininya. Mata sayapun berkaca-kaca mendengarnya, dalam hati saya saya berucap "makasih mak atas doanya..."

Ternyata, tanpa kita minta, ibu selalu berdoa dan mendoakan yang terbaik buat kita.

Ya Rabb.... Makasih atas karunia terbesar yang telah Engkau berikan kepadaku, sesosok malaikat yang Engkau utus kepadaku, sesosok malaikat yang Engkau ajarkan aku untuk memanggilnya ibu.

Wallahu a'lam bisshawaf


Kamis, 19 Agustus 2010

Psikologi Ramadhan

By : Chairil Musa Bani

Kalau dalam tulisan yang sebelumnya (karena Allah sayang kamu) dikatakan, bahwa ramadhan adalah cara, cara bagaimana Allah mendidik hambanya untuk menjadi lebih baik dan tidak nakal lagi. Maka itu adalah benar adanya, karena memang pernyataan tersebut berangkat dari firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa".(QS. Al-Baqarah : 183)

Karena pada akhirnya, taqwa bukanlah sekedar kebaikan sikap antara kita dengan Tuhan kita, tapi juga kebaikan sikap antara kita dengan sesama.
Dan adalah ramadhan merupakan sebuah metode yang Allah gunakan untuk mendidik kita menjadi baik dan lebih baik.

Kalau dalam kajian psikologi kita mengenal ada istilah reinforcement (peneguhan/penguatan). Sebuah istilah yang diusung oleh seorang psikolog amerika serikat yang beraliran behaviorisme. Dia mengartikan, reinforcement ini adalah setiap konsekuensi atau dampak tingkah laku yang memperkuat tingkah laku tertentu. Atau Reinforcement juga dapat diartikan stimulus yang meningkat kemungkinan timbulnya respon tertentu.
Maka dengan demikian, ramadhan adalah satu bulan yang berbentuk reinforcement/bulan reinforcement. Sebab bulan Ramadhan sebagai satu stimulasi yang menguatkan psikologi Muslim untuk berbuat baik, menjadi baik dan mengamalkan apa-apa yang diperintahkan dalam Islam juga meninggalkan apa-apa yang dilarang di dalamnya.

Dan sekiranya skinner berpendapat bahwa reinforcement orang tua dalam mendidik anaknya membutuhkan dua metode, yaitu dengan ; punishment (hukuman) dan Reward (hadiah). Maka begitupula dengan ramadhan, ia juga menjajikan kepada kita dengan 2 hal tersebut. Tapi kita jangan sekali-kali mengatakan bahwa Allah telah mengadopsi metode reinforcement ini dari seorang skinner. Karena Ramadhan dan segala metode pendidikan Allah telah ada dan ditetapkan sebagai aturan sebelum skinner ada dan ditetapkan sebagai manusia.

1. Punishment (hukuman)
Pertama, berupa hukuman fisik (ancaman secara fisik)
Rasulullah saw pernah bercerita, "Ketika aku tidur, datanglah dua orang pria kemudian memegang dhahaya[1], membawaku ke satu gunung yang kasar (tidak rata), keduanya berkata, "Naik". Aku katakan, "Aku tidak mampu". Keduanya berkata, 'Kami akan memudahkanmu'. Akupun naik hingga sampai ke puncak gunung, ketika itulah aku mendengar suara yang keras. Akupun bertanya, 'Suara apakah ini?'. Mereka berkata, 'Ini adalah teriakan penghuni neraka'. Kemudian keduanya membawaku, ketika itu aku melihat orang-orang yang digantung dengan kaki di atas, mulut mereka rusak/robek, darah mengalir dari mulut mereka. Aku bertanya, 'Siapa mereka?' Keduanya menjawab, 'Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum halal puasa mereka.(waktu berbuka) ." [Riwayat An-Nasa'i dalam Al-Kubra sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf 4/166 dan Ibnu Hibban (no.1800-zawaidnya) dan Al-Hakim 1/430 dari jalan Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, dari Salim bin 'Amir dari Abu Umamah. Sanadnya Shahih]
Dan kalau untuk hukuman pertama ini kita sudah di buat takut karenanya, maka tentu kita tidak akan pernah berfikir untuk pernah meninggalkannya(puasa). Tapi jika keadaan atau suasana pada akhirnya memaksa kita untuk berfikir untuk membatalkan puasa dengan tanpa alasan yang jelas. Dan berkeyakinan bahwa kita bisa membayarnya di lain waktu. maka kitapun akan di hadapkan oleh hukuman yang kedua, yaitu :

Kedua, Hukuman mental
Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, "Barangsiapa yang berbuka (tidak berpuasa) sehari di bulan Ramadhan tanpa adanya alasan ('udzur) ataupun sakit, maka seluruh puasa yang dilakukannya selama setahun tidak dapat menimpalinya (membayarnya)." (HR. Bukhari secara Ta'liq)
Dan tentu saja secara mental kita akan berpikir dua kali jika hendak meninggalkan puasa dengan tanpa alasan yang jelas. Karena pada akhirnya, kita tidak akan pernah bisa membayar puasa yang telah kita tinggalkan. Maka mau tidak mau, kita harus menyelesaikan puasa ini dengan sempurna ketika memang tak ada alasan yang membolehkan kita membatalkannya.
Dan ketika memang pada kenyataanya kita tidak lagi meninggalkanya (puasa), ternyata tidak terhenti sampai di situ, Allah pun kembali mengingatkan kita ketika kita tidak memaknainya (puasa) dengan hukuman yang ketiga :

Ketiga, hukuman secara fisik maupun mental (ancaman kesia-sian)
"Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga." (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi -yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya).
Dan tentu kita tak ingin tersiksa secara fisik dengan lapar dan dahaganya, dan juga tersiksa secara mental karena tak bisa mendapatkan apa-apa (pahala) kecuali hanya kesia-siaan. lantas bagaimana agar kita tidak tersiksa secara fisik maupun mental?
Maka Allah menberikan jawaban melalui sabda nabi-Nya,
  • Jangan berkata dusta
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan." (HR. Bukhari no. 1903).
  • Menahan diri dari perkataan lagwu (sia-sia) dan rofats
"Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, "Aku sedang puasa, aku sedang puasa". (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shohih) (Istilah rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita." Atau dengan kata lain rofats adalah kata-kata porno).
  • Menjauhkan diri dari perbuatan maksiat.
Jabir bin 'Abdillah menyampaikan petuah yang sangat bagus : "Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja." (Lihat Latho'if Al Ma'arif, 1/168, Asy Syamilah)

2. Reward (Hadiah)

Dan selain hukuman, maka ramadhan juga menjanjikan banyak hadiah bagi orang-orang yang melaksanakannya. Dan diantara hadiah yang banyak itu, adalah sebagaimana yang tergambar dari firman-Nya,
"Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah 'Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), "Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku." (HR. Muslim no. 1151)
Lihatlah, untuk amalan lain selain puasa akan diganjar dengan 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Namun, lihatlah pada amalan puasa, khusus untuk amalan ini Allah sendiri yang akan membalasnya. Lalu seberapa besar balasan untuk amalan puasa? Agar lebih memahami maksud hadits di atas, perhatikanlah penjelasan Ibnu Rojab berikut ini. "Hadits di atas adalah mengenai pengecualian puasa dari amalan yang dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan hingga 700 kebaikan yang semisal. Khusus untuk puasa, tak terbatas lipatan ganjarannya dalam bilangan-bilangan tadi. Bahkan Allah 'Azza wa Jalla akan melipatgandakan pahala orang yang berpuasa hingga bilangan yang tak terhingga. Alasannya karena puasa itu mirip dengan sabar. Mengenai ganjaran sabar, Allah berfirman, "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas." (QS. Az Zumar [39] : 10).
Dan akhirnya, ketika kita memang bisa dan mampu melakukan itu semua dengan sempurna, maka paling tidak minimal ada 3 kebaikan yang kita bisa ambil dari kebaikan ramadhan

Pertama, Menjaga lisan
bersama ramadhan kita bisa boleh belajar, bahwa kita sebagai umat islam sudah semesti duduk bersama dalam satu lingkaran persatuan dan bersama-sama membahas dan mencari solusi atas setiap permasalahan umat islam yang ada di sini bahkan di dunia ini. Baik itu masalah kemerosotan moral yang tengah marak terjadi atau bahkan masalah saudara kita di palestina. Ketimbang harus memperdebatkan permasalahan-permasalah yang memang sudah terjadi perbedaan di dalamnya. Terlebih ketika permasalahan tersebut hanya akan mengantarkan kita pada ucapan-ucapan yang hanya akan saling menyakiti satu sama lain.(ucapan yang sia-sia). karena pada akhirnya, segala peperangan dan pertumpahan darah yang terjadi di dunia ini, itu bermula dari lisan.

kedua, Bersabar
dan kalau hari ini kita mengenali diri kita sebagai seorang koruptor. maka ketahuilah, mungkin kita termasuk orang yang memang belum bersabar dalam memahami, bahwa kebahagia yang sebenarnya bukan pada uang yang menumpuk.
Dan kalau hari kita mengenali diri kita sebagai seorang penjinah, maka ketahui pula, bahwa kita mungkin belum bisa bersabar, sehingga harus menyegerakan kenikmatan tersebut dalam ketidak halalan.
Dan jika hari ini kita adalah seorang perampok, pencuri atau mafia dari beragam kejahatan. Maka sadarailah, mungkin kita belum bersabar dalam mencari rijki-Nya yang halal Karna pada akhirnya, bersabar adalah sumber dari segala kebaikan. Dan meninggalkannya adalah sumber dari segala kejahatan.

Ketiga, Berempati
Dan bersama ramadhan kitapun diajarkan untuk berempati dan bisa melihat sisi lain kehidupan tentang kehidupan orang-orang yang jauh secara materi di bawah kita dengan rasa lapar yang tengah kita rasakan ketika berpuasa.

Dan pada akhirnya ramadhan bukan sekedar hendak mengajarkan kita menjadi orang yang pandai berbicara kebaikan, dan tidak menjadi pelaku kerusakan. Tapi ramadhan juga mengajarkan kita untuk menjadi pelaku kebaikan. Salah satunya dengan adanya kewajiban berzakat setelahnnya.
Dan akhirnya, ramadhan adalah cara. Cara bagaimana Allah mendidik hambanya menjadi lebih baik dan tidak nakal lagi.

Wallahu a'lam bisshawab

Karena Allah Sayang kamu

By : Chairil Musa Bani

Di perpustakaan Pesantren Sukamanah Tasikmalaya 8 tahun yang lalu. Saya pernah membaca sebuah kisah menarik tentang kehidupan ibu dengan seorang anaknya dalam sebuah buku yang berjudul "Meraih Ampunan Ilahi". Dan Saya lupa siapa nama pengarang buku itu. Tapi walaupun demikian saya tetap yakin, sekiranya saat ini kita hendak mengambil pelajaran dari apa yang pernah ditulisnya. Dan kita bisa mengambil kebaikan dari apa yang pernah diceritakannya. Maka insya Allah, kebaikan itu tidak akan salah alamat, karena ia akan tetap kembali kepada si penulisnya. Amien....

Kira-kira ceritanya begini,
Di sebuah rumah yang tampak terlihat sederhana, hiduplah seorang ibu setengah baya dengan ditemani seorang manusia kecil yang sangat disayanginya. Ya, dia sangat menyayangi teman kecilnya itu. Betapapun tidak, karena dia bisa jadi apa saja yang dibutuhkan teman kecilnya itu, dia bisa jadi selimut ketika teman kecilnya kedinginan, dia bisa jadi atap ketika teman kecilnya kehujanan atau kepanasan dan bahkan dia juga bisa menjadi badut ketika teman kecilnya menangis.

Dan jauh sebelum semua itu, ternyata ia pernah juga melindungi teman kecilnya ini dari ancaman kematian dengan menempatkannya pada sebuah ruangan yang memang hanya dikhususkan bagi orang-orang yang tersayang (Rahim). Dan walaupun teman kecilnya ini kerapkali membebani dan merepotkan dirinya dan bahkan sempat mengancam kehidupannya ketika melahirkannya, tapi entah kenapa ketika ada seseorang yang bertanya tentang siapa sebenarnya manusia kecil yang menemaninnya itu. Dia malah justru dengan bangga menjawab, "dia adalah malaikat kecilku, buah hatiku, belahan jiwaku dan dialah anakku". Sambil tersenyum ia menatap wajah anaknya yang seolah tak peduli.

Hingga satu saat, di rumah sederhana itu terlihat sang anak tertunduk di depan pintu rumahnya. Dan di sela-sela tunduknya itu terdengar suara ibu yang terdengar marah, "anakku, kalau sekiranya kamu masih nakal, dan tak mau mendengar nasehat-nasehat ibu, maka sekarang kamu boleh pergi dan bermainlah ketempat-tempat yang menurutmu bisa membuatmu bahagia" ucap sang ibu sambil menutup pintu rumahnya.

Dan tahukah kita apa yang anak itu lakukan? Ternyata anak itu tidak mengetuk pintu rumahnya lalu meminta maaf kepada sang ibu atas kesalahannya. Tapi ia justru malah melangkah pergi meninggalkan rumah beserta ibunya. Entah, mungkin sang anak hendak mecoba mencari ketenangan dan kebahagiaan pada selain ibunya.
Maka iapun pergi ke pantai, ternyata apa? Ternyata desir ombaknya tak mampu membasuh kegelisahan hatinya. Lalu ia pergi ke gunung, ternyata kebesarannya juga tak mampu membesarkan jiwanya dan iapun pergi ke padang yang luas, ternyata apa? ternyata keluasaannya tak mampu melapangkan hatinya yang sempit. Semuanya tak ada yang mampu membuatnya gembira dan bahagia.
Dan Iapun tersadar, bahwa hanya ibunyalah yang mampu membasuh kegelisahan hatinya ketika bimbang, yang mampu membesarkan jiwanya ketika kerdil dan hanya ibunyalah yang mampu melapangkan jiwanya ketika sempit.

Akhirnya, iapun memutuskan untuk kembali ke rumah dan ibu yang sempat di tinggalkannya. Dan ketika ia sampai di depan rumahnya, ia mendapati pintu rumahnya masih tertutup rapat. Lalu iapun mengetuk pintu rumahnya seraya memanggil ibunya. "bu... ibu....". Tapi tampaknya sang ibu belum mendengarnya, terlebih ketika itu sang anak hanya mengetuk pintu itu satu kali saja. Mungkin, karena si anak masih merasa malu atas kesalahan yang telah ia lakukakn kepada ibunya. Dan karena sang anak merasa lelah atas perjalanan panjangnya, maka iapun duduk lalu tertidur tepat di depan pintu rumahnya.

Dan ketika menjelang senja, pintu rumahpun terbuka. Dan tahukah kita apa yang terjadi? Si ibu menagis, karena tak tega melihat anaknya tertidur di depan rumah dengan tanpa alas dan selimut, lalu dengan segera iapun merangkul sang anak dalam pelukannya dan membawanya masuk kedalam rumahnya. Dan dari sela-sela bilik rumah tersebut terdengar sang ibu berkata dengan di selingi tangisnya," kamu jangan kemana-mana lagi ya sayang...pokonya kamu jangan pergi meninggalkan ibu lagi... karena kemanapun kamu pergi, kamu tidak akan medapatkan tempat yang nyaman selain bersama ibu... ibu tak menginginkan apa-apa dari kamu... kalaupun ada yang ibu inginkan dari kamu... ibu hanya ingin kamu menjadi anak yang baik dan kamu jangan nakal lagi ya...."

Begitulah sepotong kisah tentang kasih sayang ibu terhadap anaknya. Sebuah kisah yang selalu menjadikan kita terdiam dan tak bisa berkata apa-apa. Karena kita sendiri juga mungkin pernah memiliki kisah yang sama antara kita dengan ibu kita. walaupun dalam judulnya berbeda, tapi tetap saja itu masih dalam tema yang sama, "kasih sayang ibu terhadap kita anaknya". Dan kalaupun ada komentar dari cerita yang yang pernah kita pernah perankan bersama ibu, maka mungkin kita hanya akan berkomentar, "bu, maafkan semua kesalahan saya. Dan tahukah ibu? Bahwa sebenarnya saya juga sangat menyayangi ibu".
\
Dan bukan hanya kita, ternyata Umar bin Khatab sendiri pernah bercerita tentang kisah seorang ibu. dan masih dalam tema yang sama. Dia (Umar bin Khatab) pernah menceritakan pengalamannya setelah melewati suatu peperangan. "Didatangkan beberapa tawanan ke hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Tiba-tiba ada di antara para tawanan seorang wanita yang buah dadanya penuh dengan air susu. (tampaknya ia kebingungan dan sedih karena mencari anaknya). Setiap ia dapati anak kecil di antara tawanan itu, ia ambil dan kemudian ia dekap di perutnya dan disusuinya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya pada para sahabat, "Apakah kalian menganggap wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?" Kami pun menjawab, "Tidak. Bahkan dia tak akan kuasa untuk melemparkan anaknya ke dalam api.........."

Bagaimana saudaraku, apa hikmah inti yang bisa kita petik dari cerita (hadist) yang di sampaikan Umar Bin Khatab tersebut? Mungkin kita semua akan menjawab dengan jawaban yang seragam. Bahwa hikmah inti dari cerita itu adalah tentang betapa besarnya kasih sayang ibu terhadap anaknya.
Dan kalau sekiranya hadits tersebut memang benar-benar terhenti sampai di situ, maka tepatlah jawaban kita. Tapi kenyataannya apa? Ternyata hadist tersebut tidak terhenti sampai di situ, dan karena jawabannya justru ada di ujung atau akhir hadits tersebut. ".......Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya." (HR. Muttafaq Alaih)
Ya, ternyata kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya adalah hikmah intinya. Karena kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya masih lebih besar ketimbang kasih sayang ibu terhadap anaknya. Kenapa?? Maka Allah swt sendiri telah menjawabnya, karena "Kasih sayang-Ku meliputi segala sesuatu" (QS. Al-A'raf : 156)

Dan pada kenyataannya, kita memang bisa tumbuh dan besar tidak semata-mata karena kebaikan ibu, tapi di sana juga ada kebaikan alam dan keadaan. Artinya, kita bertumbuh dan besar bersama ibu yang baik di alam yang ramah dan keadaan yang tidak mencekam. sedangkan untuk semua itu (ibu yang baik, alam yang ramah dan keadaan yang tak mencekam) adalah Allah yang memberikan (mentakdirkan). "Sesungguhnya Allah berkuasa(mentakdirkan) atas segala sesuatu" (QS. Al-Baqarah : 20)

Maka, apapun yang ibu berikan kepada kita atas nama cintanya. Sesungguhnya itu tidak akan pernah benar-benar terjadi jika sebelumnya Allah sendiri telah terlebih dahulu menanamkan rasa cinta kepadanya (ibu) atas nama sayang-Nya terhadap kita hamba-Nya.

Karena setiap kebaikan yang ibu berikan pada kita, adalah juga kebaikan yang Allah anugerahkan buat kita. Tapi tidak setiap kebaikan Yang Allah berikan kepada kita, itu adalah juga kebaikan yang ibu berikan buat kita.

Mungkin, seperti kebaikan ramadhan. Sebuah kebaikan yang tak seorangpun bisa memberikannya. Karena ramadhan bukanlah pemberian dari makhluk kepada makhluk lainya. Tapi ia merupakan pemberian Khalik kepada makhluk-Nya. dan kalau pun seolah ada kebaikan yang di berikan dari makhluk kepada makhluk lainya (seperti zakat/shadaqoh) di bulan ramadhan, maka itu adalah dampak kebaikan ramadhan yang telah diberikan sang Khalik kepada makhluknya. Karena pada akhirnya, Allah adalah sumber segala kebaikan, dan sumber segala rasa sayang dari setiap manusia yang baik, dan manusia yang terbaik (ibu).

Dan hari ini, ketika kehidupan dan segala persoalannya terasa sangat menghimpit dan menyedihkan. Dan ketika kebahagiaan yang selama ini kita cari tak kunjung ditemukan. Maka, marilah kita kembali kepada-Nya. karena bersama-Nya kita akan merasa lapang dan Bahagia. Dan bersaman-Nya pula, kebahagiaan yang tak terbantahkan itu ada.

Dan sejauh apapun kita telah jauh meninggalkan-Nya, dan sebanyak apapun kita telah berbuat maksiat kepadanya. Maka jangan pernah kita berfikir bahwa Dia tidak akan mengampuninya. Karena seperti juga ibu yang masih mau menerima dan berharap akan kembali anaknya. Maka seperti itu juga Allah akan menerima kita dan berharap akan kembalinya kita. Dan bahkan dengan kadar yang lebih besar dari itu.

Terlebih untuk kebaikan yang Dia berikannya saat ini (Ramadhan), di saat pintu sayang dan maaf-Nya telah di buka selebar-lebarnya. Maka di saat itu pula kita tak perlu lagi mengetuk pintu-Nya apalagi sampai harus tertidur di serambi sayang dan maaf-Nya. karena sebelum kita tertunduk malu dan duduk lelah karena dosa-dosa kita, Maka Allah swt telah terlebih dahulu merenkuh kita dalam pelukkan dan dekapan kasih sayang-Nya.

Dan akhirnya, Ramadhan Adalah cara, cara bagaimana Allah mendidik kita menjadi manusia yang baik dan tidak nakal lagi. Ramadhan adalah juga tempat, tempat yang mungkin bisa menyadarkan kita bahwa kebahagiaan yang selama ini kita cari itu hanya ada pada kebersamaan kita dengan-Nya. dan Ramadhan juga adalah hadiah. Ya, hadiah dari sebuah alasan, 'karena Allah sayang Kamu'.
Wallahu a'lam bisshawab

Mungkin, kita belum sepenuh hati mempercayainya

Dahulu ada dua orang yang masuk islam di hadapan Rasulullah saw. tak lama kemudian, salah satu dari kedua orang itu gugur syahid dalam satu peperangan. Sementara yang satunya lagi, baru meninggal satu tahun kemudian. Thalhah bin Ubaidillah bermimpi dan mengatakan, "Dalam mimpi aku melihat yang meninggal belakangan, yang lebih dulu dimasukkan ke syurga sebelum yang mati syahid pertama." Lalu esok harinya thalhah menyampaikan mimpinya itu kepada Rasulullah saw. Rasul bersabda, Bukankah yang meninggal belakangan itu telah berpuasa di bulan Ramadhan, dan shalat 6000 rakaat ini dan itu, lalu juga melaksanakan shalat sunnah? Dalam Riwayat lain Rasulullah saw mengatakan, "Bukankah ia telah memasuli bulan Ramadhan dan ia puasa dan sujud dalam satu tahun itu? Lalu Rasulullah saw mengatakan, "Sesungguhnya jarak antara keduanya lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi..." (HR. Ahmad)

Ini bukanlah cerita tentang ketidak adilan Allah karena telah memasukan Orang kedua sebelum orang yang pertama masuk syurga. karena mustahil bagi Allah memiliki sifat demikian. karena pada akhirnya, kedua-duanya bisa menghabiskan waktu bersama-sama di syurga-Nya. tapi ini adalah sebuah cerita tentang kemulian ramadhan bagi mereka yang menjalaninya. Karena semua ibadah yang dilakukan di bulan itu dilipat gandakan. Sehingga wajar jika pada akhirnya Rasulullah mengatakan bahwa dia (orang kedua) telah shalat sebanyak 6000 rakat dan dalam riwayat lain di katakan bahwa ia telah puasa dan sujud dalam satu tahun itu. Dan adalah wajar jika ia menjadi orang pertama yang masuk kedalam syurga-Nya.

Begitulah salah satu cara Allah meyakinkan kita supaya kita mau mempercayai bahwa ramadhan adalah bulan termulia, bulan terbaik dari segala bulan yang ada. Dan tidak hanya itu, rasulullah saw pun telah banyak menyampaikan hadist-hadistnya yang telah mengambarkan ramadhan dengan segala kemuliaannya, itupun dengan alasan yang sama, agar kita mau mempercayainya bahwa ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan, kebaikan dan bulan yang penuh akan pengampunan. karena pada akhirnya, hanya kepercayaanlah yang mampu menggerakan kita untuk bisa dan mau memuliakan apa yang di percayainya.

Dan bahkan dalam satu kesempatan Rasulullah saw sempat seolah hendak beranalogi kepada kita agar kita benar-benar percaya akan kemulian bulan ramadhan ini, sebagaimana dalam sabdanya

"Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya."

Dan sebelum kita membahas lebih jauh hadist ini, mungkin ada hal yang terlebih dulu mesti kita pahami dari maksud dari dua kebahagiaan dalam hadist ini :

Pertama, Kebahagiaan ketika kita berbuka

Ketika berbuka, jiwa begitu ingin mendapat hiburan dari hal-hal yang dia rasakan tidak menyenangkan ketika berpuasa, yaitu jiwa sangat senang menjumpai makanan, minuman dan menggauli istri. Jika seseorang dilarang dari berbagai macam syahwat ketika berpuasa, dia akan merasa senang jika hal tersebut diperbolehkan lagi.

Kedua, kebahagian ketika berjumpa dengan Rabbnya

adalah kebahagian ketika seorang hamba berjumpa dengan Rabbnya yaitu dia akan jumpai pahala amalan puasa yang dia lakukan tersimpan di sisi Allah. Itulah ganjaran besar yang sangat dia butuhkan. "Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya." (Qs. Al Muzammil: 20)

kalau kita mencoba melihat dari dua kebahagia di atas, maka kebahagian pertama adalah kebahagiaan yang sangat mudah kita pahami dan mudah kita mengerti. Kenapa? Karena memang kita pernah mengalaminya, pernah merasakannya dan kita pun benar-benar mengakui akan kebahagiaan itu.

Tapi untuk kebahagian yang kedua ini bagaimana? Kalau kita mau jujur, pemahaman kita akan kebahagiaan yang kedua ini tak sebaik ketika kita memahami kebahagiaan yang pertama(berbuka). Mungkin karena kita belum pernah mengalaminya dan juga belum pernah merasakannya. Padahal justru sebenarnya kita harus benar-benar bisa memaknai dan memahami makna kebahagian yang kedua ini ketimbang kebahagiaan yang pertama. Karena kebahagiaan kedua inilah yang justru bisa menghantarkan kita untuk bisa menghormati ramadhan dengan segala kemuliaannya.

Dan itulah kenapa Rasulullah saw seolah hendak mengadakan pendekatan akal kepada kita, bahwa kita akan benar-benar mendapatkan kebahagian ketika berjumpa dengan Allah, seperti kebahagian yang telah benar-benar kita rasakan ketika kita berbuka. Dan tentu dengan kadar kebahagian yang lebih besar ketimbang kebahagiaan yang pertama. Karena pada akhirnya, kebahagia pertama hanya sekedar sinyal dari kebahagiaan yang kedua.

Dan hari ini, ketika kita tengah menanti detik-detik kehadirannya (ramadhan), maka marilah kita mencoba tuk percaya bahwa ramadhan adalah tamu termulia yang Allah pernah hadirkan kepada kita. Karena hujan yang selama ini kita ridukan, hanya akan turun bersama dengan kepercayaan dan pemaknaan yang mendalam kita akan kemuliaannya (Ramadhan). Ya, hujan ibadah dan amal yang akan menumbuhkan pohon takwa dalam diri kita.

Dan kalau sekiranya ia(Ramadhan) telah benar-benar hadir ketengah kita , tapi kita masih saja menyia-nyiakannya, menodainya dan tidak pernah menganggap kehadirannya. Maka mungkin, sebenarnya kita belum sepenuh hati mempercayainya (Kemuliaan Ramadhan)

Wallahu a'lam Bisshawab

Selasa, 13 Juli 2010

Separuh malam terindah, antara Nabi dengan Tuhannya

By : chairil musa bani

Siapa di dunia ini orang yang tak pernah merasa sakit hati, kecewa dan marah karena perilaku buruk atau penghianatan orang lain? saya yakin, kita semua pernah mengalami satu kondisi yang memaksa kita untuk kecewa dan menangis karena perlakuan buruk atau penghiatan seorang teman yang kita mengenalinya sebagai rekan kerja, istri/suami atau kekasih.

Dan dari berbagai penghianatan itupun lahir berbagai macam sikap ; ada yang hanya bisa menangis, ada juga yang bersumpah serapah, dan ada juga yang berfikir untuk membelas keburukan itu dengan keburukan lagi. Dan bahkan ada orang yang sampai mengakhiri hidupnya hanya karena sebuah alasan, ia tak mampu menahan kesedihan karena kekasihnya telah menghianati.

Kalau saja kita mau mengikut sertakan Allah dalam setiap permasalahan yang tengah kita alami tersebut, mungkin akan lain ceritanya dan mungkin akan indah pada akhirnya. Seperti indahnya separuh malam yang pernah Nabi saw habiskan dalam perjalanan menemui Tuhan-Nya (isra’ mi’raj). Kok bisa? Begini ceritanya…

Dulu, selepas kepergian paman dan istri tercintannya. Kecaman, cacian dan penganiayaan kepada beliau saw semakin menjadi-jadi. tak ada lagi yang membela, menjaga dan menjadi pelipur lara. Makkah seolah tak memberi harapan baik bagi dakwah yang telah mati-matian ia perjuangkan. Tapi sesempit apapun saluran dakwah, aliran kebaikan harus tetap mengalir. Maka, Ketika makkah terlalu sempit baginya. beliau saw pun mencoba mengadu nasib agama kita ini ke sebuah negeri yang disana terdapat banyak orang-orang pandai (Thaif). Disana, Beliau tinggal selama 10 hari. Beliau berdakwah dari rumah kerumah, ke pasar-pasar dan ke jalan-jalan. Namun tidak ada seorangpun yang beriman.

Dan ketika hendak meninggalkan tha’if. Beliau saw berdiri dihadapan penduduk Tha’if, beliau mengutarakan harapan agar orang-orang merahasiakan kunjungannya ke tha’if agar kecaman dan permusuhan orang-orang makkah terhadap islam tidak semakin meningkat. Dan ternyata bukan hanya sekedar menolak permintaan terakhir nabi saw, tapi mereka juga menimpukinya dengan batu hingga kaki beliau mengeluarkan darah.

Dan di sebuah kembun anggur milik penduduk setempat, diantara sengal nafas dan lukanya, terekam sebuah do’a,
"Ya Allah, aku mengadukan kepada-MU akan lemahnya kekuatanku dan sedikitnya daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Yang Maha Rahim dari sekalian rahimin. Engkaulah Tuhannya orang2 yang merasa lemah, dan Engkaulah Tuhanku, kepada siapakah Engkau serahkan diriku. Kepada musuh yang menghinaku ataukah kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asal saja aku tetap dalam keridhaan-Mu. Dalam pada itu afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya Wajah-Mu Yang Mulia yang menyinari seluruh langit dan menerangi semua yang gelap dan atasnyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat, dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahan-Mu atau dari Engkau turun atasku adzab-Mu. Kepada Engkaulah aku mengadukan urusanku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan melalui Engkau."

Al-habib Ali al Jufri dalam sebuah kesempatannya pernah berkomentar mengenai doa ini, beliau bilang “apabila kita ditimpa satu masalah yang besar dan apabila orang lain/ musuh musuh telah sangat menindas kita. Maka kita memerlukan dua adab yang hebat bersama Allah swt, dan dua adab ini telah terdapat dalam pribadi nabi Muhammad saw; Adab yang pertama adalah pengaduan kepada Allah swt, bukan kepada makhluk. Menanti bantuan, sokongan serta pertolongan itu bukanlah dari manusia, mereka tidak memberikan faedah maupun kemudharatan, baik dari timur maupun dari barat, tetapi hanya dari Allah saja,sebagaimana di awal doa beliau berkata, ‘Ya Allah, aku mengadukan kepada-MU….’. dan adab yang kedua,ada dalam kelanjutan doa tadi, ‘Ya Allah, aku mengadukan kepada-MU akan lemahnya kekuatanku dan sedikitnya daya upayaku pada pandangan manusia…..’. ya, ternyata beliau saw tidak mengadukan kepada Allah tentang kebencian mereka,kekufuran mereka,cercaan dan penindasan mereka. Tapi yang beliau adukan adalah kelemahannya”

Ternyata, beliau mengadu kepada Allah tentang dirinya sendiri bukan tentang orang lain, beliau saw mengadu tentang kelemahan dirinya sendiri bukan kelemahan (perlakuan buruk) orang lain. mungkin beliau hendak mengajarkan kepada kita tentang sebuah terapi yang bisa menjadi penawar dari rasa sakit hati yang mungkin berkepanjangan, yaitu dengan tidak perlunya kita mengingat atau menyebut-nyebut perlakuan buruk orang lain. karena pada akhirnya, ingatan kita atas pelakuan buruk orang lain, hanya akan mengantarkan kita pada sakit hati dan dendam yang berkepanjangan saja. Dan kalaupun ada hal yang perlu kita ingat adalah kelemahan kita. Mungkin tentang kelemahan kita yang mudah dan gampang tersinggug atau sakit hati karena perilaku buruk orang lain. atau tentang kita yang masih belum pandai memberikan maaf atas kesalahan dan kekhilafan orang lain.

Saya pun jadi teringat akan sebuah nasihat seorang ulama, “ketika kita berbuat baik, mungkin akan ada saja orang yang membenci kita dan menganggap bahwa apa yang kita lakukan itu sia-sia dan tak berguna. Tapi, tetaplah berbuat baik. Dan ketika kita mencoba untuk jujur, mungkin akan ada saja orang-orang yang mendustakan kita dan tidak mempercayai kita. Tapi, tetaplah kita jujur. Karena inti permasalahannya bukan antara kita dengan mereka. Tapi ada antara kita dengan Tuhan kita”.
Ya, mungkin ini adalah makna dari apa yang rasululullah saw maksud. Bahwa inti setiap permasalahan ada antara kita dengan tuhan kita. karena pada akhirnya, hanya Allah yang mampu menghargai kebaikan dan kejujuran kita dengan sebentuk penghargaan yang tak pernah bisa kita menghargainya(pahala).

Dan adalah rasulullah saw, merupakan sosok orang yang benar-benar telah memaknai hubungan kedekatan ini. Tapi, bukanlah pahala yang diharapnya, dan bukan pula kemuliaan yang di dambakannya. Tapi hanya keridhaan-Nya yang diharapkannya, sebagaimana doa beliau ketika di thaif
“…kepada siapakah Engkau serahkan diriku. Kepada musuh yang menghinaku ataukah kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asal saja aku tetap dalam keridhaan-Mu…..”

Begitulah pribadi rasulullah saw, hanya Allah yang ia hadirkan dalam setiap langkah kehidupannya. Dan hanya Allah yang yang mampu membuat bersedih dan Cuma Allah mampu membuatnya khawatir. Sehingga adalah wajar jika setelah kejadian di thaif itu menjadi puncak dari serangkain penderitaan yang pada akhirnya menyampaikan beliau pada satu kemulian, yaitu dengan di isra’ dan di mi’rajkannya beliau saw oleh Allah swt. Dan sangatlah pantas jika mukjizat isra’ mi’raj nabi dikatakan bertujuan untuk memuliakan nabi Muhammad saw secara pribadi. Karena meskipun ada beberapa nabi yang di angkat Allah ke langit, seperti Nabi Idris dan Isa a.s, tapi pengangkatan mereka adalah penyelamatan dari tindak pembunuhan dan penyaliban. Dan mukjizat para nabi yang berupa pengangkatan ke langit biasanya adalah akhir dari segala aktivitas dakwah mereka di muka bumi. Tapi tidak dengan nabi Muhammad saw

Dan adalah juga sangat wajar jika dalam perjalanan isra’ mi’raj-nya, jibril hanya bisa menemaninya sampai sidratul muntaha dan tidak bisa menemaninya sampai ke mustawa. Mungkin Allah hanya ingin berjumpa dengan Nabi-Nya saja, Allah hanya ingin bercakap-cakap langsung dengan nabi-Nya saja sebagaimana beliau telah memaknai semua hubungan hanya terhadap Allah saja.

Di tengah riak-riak duka dan kecewa atas perlakuan buruk orang lain, kita memang tak pernah bisa memuarakan semua kesedihan itu pada separuh malam terindah sebagaimanan malam yang pernah Nabi habiskan Tuhannya (isra’ Mi’raj). Tapi paling tidak, Allah masih sangat berbaik hati terhadap kita dengan menyediakan satu waktu bagi kita untuk menghabiskan waktu hanya bersama-Nya pada sepertiga malam-Nya(tahajud).

Dan adakah duka serta kesedihan kita mampu menghantarkan kita untuk berjumpa dengan Allah di sepertiga malamnya(Tahajud) sebagaimana Allah pernah mengatarkan Nabi-Nya pada separuh malam terindah-Nya? jawabannya, ada pada bagaimana kita kita memaknai bahwa inti dari setiap permasalahan yang ada, itu ada di antara kita dengan Allah saja. Sebagaimana Beliau saw memaknai semua hubungan hanya terhadap Allah saja. Karena pada akhirnya, itulah yang mengantarkan beliau saw pada separuh malam terindah, antara Nabi dengan Tuhan-Nya.

wallahu a'lam bisshawaf

Kamis, 08 Juli 2010

Aku ikut mauMu Tuhan

 By : chairil musa bani


“Aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, aku tidak akan menentang perintah-Nya. Dan Allah tidak akan pernah menelantarkan diriku”

Hanya itu penjelasan yang bisa rasulullah sampaikan kepada para sahabat yang merasa tidak mengerti akan keputusan rasulullah yang menyapakati akan perjanjian damai dengan kafir quraisy (perjanjian hudaibiyah). Ya, Sebuah perjanjian damai yang menurut mereka hanya akan merugikan kaum muslimin. Sebuah perjanjian yang mengharuskan mereka pulang kembali pulang ke madinah sebelum bisa memasuki baitul haram (Makkah), sebuah perjanjian yang dalam salah satu poinnya di sebutkan “ jika salah seorang kafir memeluk islam, dia harus dikembalikan kepada pihak Quraisy. Tapi apabila seorang muslim murtad dan kembali kafir, maka dia berhak mendapat perlindungan dari kaum kafir Quraisy”.

Adalah rasulullah ketika itu pun tak bisa memahami apa maksud kemauan Allah sehingga memerintahkannya untuk menyepakati perjanjian damai itu. Tapi, sesulit apapun beliau memahami akan kemauan Tuhannya, ada satu hal yang sangat beliau pahami dari Tuhannya, bahwa Dia tidak akan pernah menelantarkan dirinya, ketika beliau saw mentaati perintah-Nya.
Dan ternyata benar saja, bahwa perjanjian damai itulah yang justru mengantarkan islam kepada kemenangan, yang menghantarkan Rasulullah saw dan umat islam bisa memasuki makkah dengan kebebasan dan mampu membebaskan baitul haram dari berhala-berhala dan pengaruhnya (Futhu Makkah). Betapapun tidak, karena dengan perjanjian damai itu, golongan yahudi di semenanjung arab tidak bisa lagi memanfaatkan perselisihan antara kaum muslimin dengan kafir Quraisy. Sehingga dengan itu pula umat islam bisa berkonsentrasi untuk menghancurkan duri-duri islam (yahudi), karena ketika itu orang-orang yahudi tidak pernah berhenti melakukan pernghianatan dan rekayasa terhadap islam.

Begitulah Allah, terkadang takdir-takdir-Nya sulit kita pahami. Tapi sesulit apapun kita memahaminya, Dia tidak pernah bermaksud jahat terhadap hamba-hambanya. Sesulit kita mencari rejeki diantara kais-kaisnya, mungkin Dia hendak mengajarkan kepada kita tentang betapa beratinya sesuatu yang justru orang menganggapnya tak bernilai. Dan kalau untuk hal yang tak bernilai saja kita telah dibuat-Nya bahagia, apatah lagi untuk hal-hal yang memang memiliki arti dan nilai.
Dan sesulit kita menerka tentang dimana keberadaan, bagaimana keadaan dan kapan waktu perjumpaan kita dengan pendamping hidup yang selama ini kita rindukan, mungkin Allah hendak mengajarkan tentang arti kerinduan seorang calon ibu yang menanti detik-detik kelahiran anak. Ya sebuah kerinduan yang tak di dahului oleh kebaikan sang anak tapi justru berakhir dengan pengorbanan dan penghormatan untuk sang ibu. Sehingga pada akhirnya, seperti juga ibu yang menganggap anak yang di nantinya adalah karunia, maka seperti itu pula kita menganggap pasangan yang kita nanti saat ini adalah juga karunia

Tapi entah kenapa kita masih saja menyangka bahwa Allah kejam ketika Dia menentukan satu takdir yang telah memaksa kita untuk menangis, satu ketetapan yang memaksa kita menjadi sendiri dan seolah tak punya arti? Kenapa? Masikah kita tidak mempercayainya bahwa Dia adalah Tuhan yang Maha Pengasih? Tuhan Yang Maha Penyayang? DanTuhan Yang Maha Bijaksana atas setiap keputusan-Nya? dan apakah Firman-Nya tidak cukup meyakinkan kita bahwa dia maha pengasih, Maha Penyayang dan Maha Bijaksana, padahal Dia sudah kelapkali mengulang kata-kata itu (Ar-Rahman, Ar-Rahim dan Al-Hakim) dalam Al-Qur’an?

Ataukah kita masih merasa bahwa rencana kita lebih baik dari rencana Allah? dan belum bisa untuk sejenak bersabar menanti detik-detik saat Allah menyibak hikmah dalam takdir yang masih kita sulit memahaminya?

Dan masihkan kita merasa kecewa ketika Allah kembali coba meyakinkan kita melalui firman-Nya,
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahu

Entah, dengan kata-kata apa saya harus menyimpulkan tulisan ini. Sejujurnya saya bingung, tentang apa yang mesti saya katakan lagi. Karena tulisan ini, seolah jadi bomerang atas sikap saya ketika menyikapi ketetapan-Nya yang sulit saya pahami saat-saat ini. Karena terkadang saya masih merasa bersedih dan seolah tak bisa menerima atas ketentuan-Nya ini. Walaupun air mata ini tak menetes, tapi air mata yang hanya mengembang di tepian kelopaknya tetap saja mengganggu pandangan, sehingga terkadang itu memaksa saya untuk mengusapnya.

Dan tak ada yang bisa saya lakukan kecuali saya harus menyerah dan ikut kemauan-Nya. seraya tetap belajar meyakini bahwa ketetapan-Nya adalah baik. karena Dia tetap Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dan tak ada kata-kata yang bisa saya sampaikan setelah ini kecuali hanya sebuah doa,
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami… “ (Al-Baqarah : 286)

Kamis, 01 Juli 2010

Puncak Iman

Oleh : Anis Matta Lc
Kamu takkan pernah sanggup mendaki sampai ke puncak gunung iman, kecuali dengan satu kata: cinta. Imanmu hanyalah kumpulan keyakinan semu dan beku, tanpa nyawa tanpa gerak, tanpa daya hidup tanpa daya cipta. Kecuali ketika ruh cinta menyentuhnya. Seketika ia hidup, bergeliat, bergerak tanpa henti, penuh vitalitas, penuh daya cipta, bertarung dan mengalahkan diri sendiri, angkara murka atau syahwat.

Iman itu laut, cintalah ombaknya. Iman itu api, cintalah panasnya. Iamn itu angin, cintalah badainya. Iman itu salju, cintalah dinginnya. Iman itu sungai, cintalah arusnya.

Seperti itulah cinta bekerja ketika kamu harus memenangkan Allah atas dirimu sendiri, atau bekerja dalam diri pemuda ahli ibadah itu. Kejadiaanya diriwayatkan Al Mubarrid dari Abu Kamil, dari Ishak bin Ibrahim dari Raja' bin Amr Al Nakha'i. Seorang pemuda Kufa yang terkenal ahli ibadah suatu saat jatuh cinta dan tergila-gila pada seorang gadis. Cintanya berbalas. Gadis iru sama gilanya. Bahkan ketika lamaran sang pemuda ditolak karena sang gadis telah dijodohkan dengan saudara sepupunya, mereka tetap nekat, ternyata. Gadis itu bahkan menggoda kekasihnya, "Aku datang padamu, atau kuantar cara supaya kamu bisa menyelinap ke rumahku". Itu jelas jalan syahwat.

"Tidak! Aku menolak kedua pilihan itu. Aku takut pada neraka yang nyalanya tak pernah padam!" Itu jawaban sang pemuda yang menghentak sang gadis. Pemuda itu memenangkan iman atas syahwatnya dengan kekuatan cinta. "Jadi dia masih takut pada Allah?" Gumam sang gadis. Seketika ia tersadar, dan dunia tiba-tiba jadi kerdil di matanya. Ia pun bertaubat dan kemudian mewakafkan dirinya untuk ibadah. Tapi cintanya pada sang pemuda tidak mati. Cintanya berubah jadi rindu yang menggelora dalam jiwa dan doa-doanya. Tubuhnya luluh lantak didera rindu. Ia mati, akhirnya.

Sang pemuda terhenyak. Itu mimpi buruk. Gadisnya telah pergi membawa semua cintanya. Maka kuburan sang gadislah tempat ia mencurahkan rindu dan doa-doanya. Sampai suatu saat ia tertidur di atas kuburan gadisnya. Tiba-tiba sang gadis hadir dalam tidurnya. Cantik. Sangat cantik. "Apa kabar? Bagaimana keadaanmu setelah kepergianku," tanya sang gadis. "Baik-baik saja. Kamu sendiri disana bagaimana," jawabnya sambil balik bertanya. "Aku disini, dalam surga abadi, dalam nikmat dan hidup tanpa akhir," jawab gadisnya. "Doakan aku. Jangan pernah lupa padaku. Aku selalu ingat padamu. Kapan aku bisa bertemu denganmu," tanya sang pemuda lagi. "Aku juga tidak pernah lupa padamu. Aku selalu berdoa kepada Allah menyatukan kita di surga. Teruslah beribadah. Sebentar lagi kamu akan menyusulku," jawab sang gadis. Hanya tujuh malam setelah mimpi itu, sang pemuda pun menemui ajalnya.

Atas nama cinta ia memenangkan Allah atas dirinya sendiri, memenangkan iman atas syahwatnya sendiri. Atas nama cinta pula Allah mempertemukan mereka. Cinta selalu bekerja dengan cara itu.